Rabu, 16 April 2014
manajemen asuhan kebidanan
B A B I
P E N D A H U L U A N
A. Latar Belakang
Bidan sebagai seorang pemberi layanan kesehatan (health provider) harus dapat melakukan pelayanan kebidanan dengan melaksanakan manajemen yang baik. Dalam hal ini bidan berperan sebagai manajer yaitu mengelola atau memanage segala sesuatu tentang kliennya sehingga tercapai tujuan yang diharapkan.
Dasar manajemen kebidanan adalah ilmu manajemen secara umum. Dengan mempelajari teori manajemen, maka diharapkan bidan dapat menjadi manajer dalam suatu sistem organisasi kebidanan. Demikian pula dalam hal memberikan pelayanan kesehatan pada kliennyaseorang bidan haruslah menjadi manajer yang baik dalam rangka pemecahan masalah dari klien tersebut.
Manajemen sendiri adalah seni dalam melaksanakan suatu kegiatan mengatur atau mengelola. Dengan kata lain manajemen adalah sebagai pengaturan atau pengelolaan sumber daya yang ada sehingga hasilnya maksimal. Maka dari itu bidan harus menggunakan manajemen kebidanan yang adekuat dalam memberikan asuhan kebidanan pada setiap kliennya.
B. Tujuan Penulisan
Tujuan khusus dirumuskan sebagai berikut:
1. Menyebutkan pengertian pengertian manajemen asuhan kebidanan.
2. Menyebutkan prinsip manajemen asuhan kebidanan
3. Menyebutkan sasaran manajemen asuhan kebidanan
4. Menyebutkan langkah dalam manjemen asuhan kebidanan
B A B II
P E M B A H A S A N
A. Pengertian Manajemen Asuhan Kebidanan
Manajemen asuhan kebidanan atau yang sering disebut manajemen kebidanan adalah suatu metode berpikir dan bertindak secara sistematis dan logis dalam memberi asuhan kebidanan, agar menguntungkan kedua belah pihak baik klien maupun pemberi asuhan.
Manajemen kebidanan menyangkut pemberian pelayanan yang utuh dan menyeluruh kepada kliennya, yang merupakan suatu proses manajemen kebidanan yang diselenggarakan untuk memberikan pelayanan yang berkualitas melalui tahapan-tahapan dan langkah-langkah yang disusun secara sistematis untuk mendapatkan data, memberikan pelayanan yang benar sesuai dengan keputusan tindakan klinik yang dilakukan dengan tepat, efektif dan efisien.
Manajemen kebidanan diadaptasi dari sebuah konsep yang dikembangkan oleh Helen Varney dalam buku Varney’s Midwifery , edisi ketiga tahun 1997 yang menggambarkan proses manajemen asuhan kebidanan yang terdiri dari tujuh langkah yang berurut secara sistematis.
Dengan kata lain manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, ketrampilan dalam rangkaian tahapan logis untuk pengambilan keputusan yang berfokus pada klien.
Bidan mempunyai fungsi yang sangat penting dalam asuhan yang mandiri, kolaborasi dan melakukan rujukan yang tepat. Oleh karena itu bidan dituntut untuk mampu mendeteksi dini tanda dan gejala komplikasi kehamilan, memberikan pertolongan kegawatdaruratan kebidanan dan perinatal dan merujuk. Praktek kebidanan telah mengalami perluasan peran dan fungsi dari fokus terhadap ibu hamil, bersalin, nifas, bayi baru lahir serta anak balita bergeser kepada upaya mengantisipasi tuntutan kebutuhan masyarakat yang dinamis yaitu menuju pada pelayanan kesehatan reproduksi sejak konsepsi, persalinan, pelayanan ginekologis, kontrasepsi, asuhan pre dan post menopause.
B. Prinsip Manajemen Asuhan Kebidanan
Proses manajemen kebidanan sebenarnya sudah dilakukan sejak orang mulai menolong kelahiran bayi. Pada zaman dahulu, perempuan-perempuan yang sudah berpengalaman melahirkan dipercaya untuk memberikan pelayanan pada ibu-ibu hamil dan melahirkan. Mereka diharapkan mampu memberikan pertolongan kepada ibu hamil dan melahirkan. Tentu pertolongan yang diberikan pada masa tersebut hanya berdasarkan pengalaman mereka sendiri.
Pada era yang terus menghadapkan kita pada situasi yang mengandalkan ilmu pengetahuan membuat bidan maupun penerima jasa pelayanan bidan semakin kritis terhadap mutu pelayanan kebidanan. Dengan demikian pelayanan yang diberikan sudah selayaknya berdasarkan teori yang dapat dipertanggungjawabkan dan praktik yang dilakukan berdasarkan Evidence Based Medicine (Bukti Ilmiah yang Rasional).
Varney (1997) menjelaskan bahwa prinsip manajemen kebidanan adalah pemecahan masalah. Dalam text book masalah kebidanan yang ditulisnya pada tahun 1981 proses manajemen kebidanan diselesaikan melalui 5 langkah. Setelah menggunakannya, Varney (1997) melihat ada beberapa hal penting yang perlu disempurnakan. Misalnya seorang bidan dalam manajemen yang dilakukannya perlu lebih kritis untuk mengantisipasi masalah atau diagnosa potensial. Dengan kemampuan yang lebih dalam melakukan analisa kebidanan akan menemukan diagnosa atau masalah potensial ini.
Kadang kala bidan juga harus bertindak untuk menyelesaikan masalah tertentudan mungkin juga harus melakukan kolaborasi, konsultasi bahkan mungkin juga harus merujuk kliennya. Varney kemudian menyempurnakan proses manajemen kebidanan menjadi 7 langkah. Ia menambahkan langkah ke III agar bidan lebih kritis mengantisipasi masalah yang kemungkinan dapat terjadi pada kliennya.
Varney juga menambahkan langkah ke IV dimana bidan diharapkan dapat menggunakan kemampuannya untuk melakukan deteksi dini dalam proses manajemen sehingga bila klien membutuhkan tindakan segera atau kolaborasi, konsultasi bahkan dirujuk segera dapat dilaksanakan.
C. Sasaran Manajemen Asuhan Kebidanan
Manajemen asuhan kebidanan tidak hanya diimplementasikan pada asuhan kebidanan pada individu akan tetapi dapat juga diterapkan di dalam pelaksanaan pelayanan kebidanan yang ditujukan kepada keluarga dan masyarakat. Permasalahan yang tangani oleh bidan mutlak menggunakan metode dan pendekatan manajemen kebidanan. Sesuai dengan lingkup dan tanggung jawab bidan maka sasaran manajemen kebidanan ditujukan kepada baik individu, keluarga maupun kelompok masyarakat
D. Langkah Dalam Manjemen Asuhan Kebidanan
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa manajemen kebidanan terdiri dari beberapa langkah yang berurutan yang dimulai dengan langkah pengumpulan data dasar dan diakhiri dengan evaluasi. Langkah-langkah tersebut membentuk kerangka yang lengkap yang bisa diaplikasikan dalam semua situasi. Setiap langkah dalam manajemen kebidanan akan dijabarkan sebagai berikut :
1. Langkah 1 : Pengkajian
Pada langkah ini bidan mengumpulkan semua informasi yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien, untuk memperoleh data dapat dilakukan dengan cara:
a. Anamnesa.
b. Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital.
c. Pemeriksaan khusus.
d. Pemeriksaan penunjang
Bila klien mengalami komplikasi yang perlu di konsultasikan kepada dokter dalam penatalaksanaan maka bidan perlu melakukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter. Tahap ini merupakan langkah awal yang akan menentukan langkah berikutnya, sehingga kelengkapan data sesuai dengan kasus yang di hadapi akan menentukan proses interpretasi yang benar atau tidak dalam tahap selanjutnya, sehingga dalam pendekatan ini harus yang komprehensif meliputi data subjektif, objektif dan hasil pemeriksaan sehingga dapat menggambarkan kondisi / masukan klien yang sebenarnya dan valid. Kaji ulang data yang sudah di kumpulkan apakah sudah tepat, lengkap dan akurat.
2. Langkah II: Interpretasi Data Dasar.
Pada langkah ini identifikasi terhadap diagnosa atau masalah berdasarkan interpretasi yang akurat atas data-data yang telah dikumpulkan. Data dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga dapat merumuskan diagnosa dan masalah yang spesifik. Rumusan diagnosa dan masalah keduanya digunakan karena masalah tidak dapat didefinisikan seperti diagnosa tetapi tetap membutuhkan penanganan. Masalah sering berkaitan dengan hal-hal yang sedang dialami wanita yang diidentifikasi oleh bidan sesuai dengan hasil pengkajian. Masalah juga sering menyertai diagnosa. Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan bidan dalam lingkup praktik kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur diagnosa kebidanan.
3. Langkah III: Identifikasi Diagnosis/Masalah Potensial dan Antisipasi Penanganannya.
Pada langkah ini mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosa potensial berdasarkan diagnosa atau masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan. Pada langkah ketiga ini bidan dituntut untuk mampu mengantisipasi masalah potensial tidak hanya merumuskan masalah potensial yang akan terjadi tetapi juga merumuskan tindakan antisipasi agar masalah atau diagnosa potesial tidak terjadi.
4. Langkah IV: Menetapkan Kebutuhan Tindakan Segera.
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan/dokter dan untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien. Langkah ini mencerminkan kesinambungan dari proses penatalaksanaan kebidanan. Jadi, penatalaksanaan bukan hanya selama asuhan primer periodik atau kunjungan prenatal saja tetapi juga selama wanita tersebut bersama bidan terus-menerus.
Pada penjelasan diatas menunjukkan bahwa bidan dalam melakukan tindakan harus sesuai dengan prioritas masalah/kebutuhan yang dihadapi kliennya. Setelah bidan merumuskan tindakan yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi diagnosa/masalah potensial pada langkah sebelumnya, bidan juga harus merumuskan tindakan emergency/segera untuk segera ditangani baik ibu maupun bayinya. Dalam rumusan ini termasuk tindakan segera yang mampu dilakukan secara mandiri, kolaborasi atau yang bersifat rujukan.
5. Langkah V: Merencana Asuhan Secara Menyeluruh
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh yang ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan penatalaksanaan terhadap masalah atau diagnosa yang telah teridentifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini informasi data yang tidak lengkap dapat dilengkapi.
Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa-apa yang sudah teridentifikasi dari kondisi klien atau dari masalah yang berkaitan tetapi juga dari krangka pedoman antisipasi terhadap wanita tersebut seperti apa yang diperkirakan akan terjadi berikutnya, apakah dibutuhkan penyuluhan konseling dan apakah perlu merujuk klien bila ada masalah-masalah yang berkaitan dengan sosial ekonomi-kultural atau masalah psikologi.
Setiap rencana asuhan haruslah disetujui oleh kedua belah pihak, yaitu oleh bidan dan klien agar dapat dilaksanakan dengan efektif karena klien juga akan melaksanakan rencana tersebut. Semua keputusan yang dikembangkan dalam asuhan menyeluruh ini harus rasional dan benar-benar valid berdasarkan pengetahuan dan teori yang up to date serta sesuai dengan asumsi tentang apa yang akan dilakukan klien.
6. Langkah VI: Implementasi
Pada langkah ke enam ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah ke lima dilaksanakan secara aman dan efisien. Perencanaan ini dibuat dan dilaksanakan seluruhnya oleh bidan atau sebagian lagi oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya. Walaupun bidan tidak melakukannya sendiri, bidan tetap bertanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya.
Dalam kondisi dimana bidan berkolaborasi dengan dokter untuk menangani klien yang mengalami komplikasi, maka keterlibatan bidan dalam penatalaksanaan asuhan bagi klien adalah tetap bertanggung jawab terhadap terlaksananyarencana asuhan bersama yang menyeluruh tersebut. Pelaksanaan yang efisien akan menyangkut waktu dan biaya serta meningkatkan mutu dan asuhan klien.
7. Langkah VII: Evaluasi
Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasidi dalam diagnosa dan masalah. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar-benar efektif dalam pelaksanaannya.
Langkah-langkah proses penatalaksanaan umumnya merupakan pengkajian yang memperjelas proses pemikiran yang mempengaruhi tindakan serta berorientasi pada proses klinis, karena proses penatalaksanaan tersebut berlangsung di dalam situasi klinik dan dua langkah terakhir tergantung pada klien dan situasi klinik.
B A B III
P E N U T U P
Kesimpulan
Manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, ketrampilan dalam rangkaian tahapan logis untuk pengambilan keputusan yang berfokus pada klien.
Prinsip manajemen kebidanan adalah pemecahan masalah menurut Varney. Setiap langkah dalam manajemen kebidanan akan dijabarkan sebagai berikut :
1. Langkah I :Anamnese
2. Langkah II : Interpretasi Data Dasar.
3. Langkah III: Identifikasi Diagnosis/Masalah Potensial dan Antisipasi Penanganannya.
4. Langkah V: Merencana Asuhan Secara Menyeluruh
5. Langkah V: Merencana Asuhan Secara Menyeluruh
6. Langkah VI: Implementasi
7. Langkah VII: Evaluasi
pengambilan keputusan dalam kebidanan
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pengambilan keputusan merupakan kemampuan mendasar bagi praktisi kesehatan, khususnya dalam asuhan keperawatan dan kebidanan. Tidak hanya berpengaruh pada proses pengelolaan asuhan keperawatan dan kebidanan, tetapi penting untuk meningkatkan kemampuan merencanakan perubahan. Perawat dan bidan pada semua tingkatan posisi klinis harus memiliki kemampuan menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan yang efektif, baik sebagai pelaksana/staf maupun sebagai pemimpin.
Pengambilan keputusan bukan merupakan bentuk sinonim. Pemecahan masalah dan proses pengambilan keputusan membutuhkan pemikiran kritis dan analisis yang dapat ditingkatkan dalam praktek. Pengambilan keputusan merupakan upaya pencapaian tujuan dengan menggunakan proses yang sistematis dalam memilih alternatif.
Pemecahan masalah termasuk dalam langkah proses pengambilan keputusan, yang difokuskan untuk mencoba memecahkan masalah secepatnya. Masalah dapat digambarkan sebagai kesenjangan diantara “apa yang ada dan apa yang seharusnya ada”. Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan yang efektif diprediksi bahwa individu harus memiliki kemampuan berfikir kritis dan mengembangkan dirinya dengan adanya bimbingan dan role model di lingkungan kerjanya.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah pengertian pengambilan keputusan ?
2. Menyebutkan lima hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan keputusan!
3. Bagaimanakah pandangan historikal terhadap profesi bidan ?
4. Menjelaskan faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan !
5. Menyebutkan dua kriteria utama dalam pengambilan keputusan !
6. Menyebutkan langkah-langkah dalam pengambilan keputusan !
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian pengambilan keputusan
Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakekat suatu masalah dengan pengumpulan fakta-fakta dan data, menentukan alternatif yang matang untuk mengambil suatu tindakan yang tepat.
Pengertian Pengambilan Keputusan dikemukakan oleh,
z Ralp C. Davis;
z Keputusan dapat dijelaskan sebagai hasil pemecahan masalah, selain itu juga harus didasari atas logika dan pertimbangan, penetapan alternatif terbaik, serta harus mendekati tujuan yang telah ditetapkan.
z Mary Follet;
z Seorang pengambil keputusan haruslah memperhatikan hal-hal seperti; logika, realita, rasional, dan pragmatis.
z James A.F. Stoner.
z Secara umum pengertian teori pengembilan keputusan adalah, teknik pendekatan yang digunakan dalam proses pengambilan keputusan atau proses memilih tindakan sebagai cara pemecahan masalah.
Ada lima hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan keputusan :
1. Dalam proses pengambilan keputusan tidak terjadi secara kebetulan.
2. Pengambilan keputusan tidak dilakukan secara sembrono tapi harus berdasarkan pada sistematika tertentu :
a. Tersedianya sumber-sumber untuk melaksanakan keputusan yang akan diambil.
b. Kualifikasi tenaga kerja yang tersedia
c. Falsafah yang dianut organisasi.
d. Situasi lingkungan internal dan eksternal yang akan mempengaruhi administrasi dan manajemen di dalam organisasi.
3. Masalah harus diketahui dengan jelas.
4. Pemecahan masalah harus didasarkan pada fakta-fakta yang terkumpul dengan sistematis.
5. Keputusan yang baik adalah keputusan yang telah dipilih dari berbagai alternatif yang telah dianalisa secara matang.
Apabila pengambilan keputusan tidak didasarkan pada kelima hal diatas, akan menimbulkan berbagai masalah :
a. Tidak tepatnya keputusan.
b. Tidak terlaksananya keputusan karena tidak sesuai dengan kemampuan organisasi baik dari segi manusia, uang maupun material.
c. Ketidakmampuan pelaksana untuk bekerja karena tidak ada sinkronisasi antara kepentingan organisasi dengan orang-orang di dalam organisasi tersebut.
d. Timbulnya penolakan terhadap keputusan.
Sikap atau watak berfikir kritis dapat ditingkatkan dengan memantapkan secara positif dan memotivasi lingkungan kerja. Kreativitas penting untuk membangkitkan motivasi secara individu sehingga mampu memberikan konsep baru dengan pendekatan inovatif dalam memecahkan masalah atau isu secara fleksibel dan bebas berpikir. Keterbukaan menerima kritik akan mengakibatkan hal positif seperti; semakin terjaminnya kemampuan analisa seseorang terhadap fakta dan data yang dihadapi dan akan meningkatkan kemampuan untuk mengatasi kelemahan.
Pandangan historikal dan sosiologi terhadap profesi bidan
Profesi bidan dipandang sebagai salah satu profesi yang amat berperan dalam banyak hal dikarenakan seorang bidan mampu mengemban, menempatkan, mengaitkan, memahami, dan menjelaskan realita sosial atau fenomena yang terjadi di masyarakat. Bahwa historikal dan sosiologi memperhatikan profesi bidan yang mempunyai dimensi sosial dan selalu melibatkan makna serta berhubungan dengan kekuasaan maupun dalam hal pengambilan keputusan.
a. Pendekatan Dalam Pengambilan Keputusan
Ada 7 variabel yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan untuk menyeleksi pendekatan yang paling cocok, yaitu :
1. Pentingnya kualitas keputusan untuk keberhasilan institusi.
2. Derajat informasi yang dimiliki oleh bidan
3. Derajat pada masalah yang terstruktur.
4. Pentingnya komitmen dan keterampilan membuat keputusan.
5. Kemungkinan keputusan autokratik dapat diterima.
6. Komitmen yang kuat terhadap tujuan institusi.
7. Kemungkinan bawahan konflik dalam proses akhir pada keputusan final.
Faktor-faktor Yang Berpengaruh Dalam Pengambilan Keputusan
Banyak faktor yang berpengaruh kepada individu dan kelompok dalam pengambilan keputusan, antara lain:
1. Faktor Internal
Faktor internal dari diri manajer sangat mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Faktor internal tersebut meliputi: keadaan emosional dan fisik, personal karakteristik, kultural, sosial, latar belakang filosofi, pengalaman masa lalu, minat, pengetahuan dan sikap pengambilan keputusan yang dimiliki.
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal termasuk kondisi dan lingkungan waktu. Suatu nilai yang berpengaruh pada semua aspek dalam pengambilan keputusan adalah pernyataan masalah, bagaimana evaluasi itu dapat dilaksanakan. Nilai ditentukan oleh salah satu kultural, sosial, latar belakang, filosofi, sosial dan kultural.
Ada dua kriteria utama untuk pengambilan keputusan yang efektif:
1. Keputusan harus berkualitas tinggi dan dapat mencapai tujuan atau sasaran yang sebelumnya telah didefinisikan.
2. Keputusan harus diterima oleh orang yang bertanggungjawab melaksanakannya. Contoh; Rapat merupakan salah satu alat terpenting untuk mencapai informasi dan mengambil keputusan. Ada keuntungan-keuntungan tertentu yang dapat dipetik melalui suatu rapat, yaitu :
a. Masalah yang timbul menjadi jelas sifatnya karena dibicarakan dalam forum terbuka.
b. Interaksi kelompok akan menghasilkan pendapat dan buah pikiran serta pengertian yang mendalam.
c. Penerimaan dan pelaksanaan keputusan diambil oleh peserta rapat.
d. Rapat melatih menerima pendapat orang lain.
e. Melalui rapat peserta dilatih belajar tentang pemikiran orang lain dan belajar menempatkan diri pada posisi orang lain.
b. Langkah-langkah dalam Pengambilan Keputusan
Menyeleksi pilihan yang paling baik untuk menilai sebelum mendefinisikan tujuan, Mendefinisikan tujuan, memunculkan pilihan, mengidentifikasi keuntungan dan kerugian masing-masing pilihan, memprioritaskan pilihan, , implementasi dan evaluasi.
Dibawah ini adalah salah satu format yang digunakan untuk melengkapi langkah-langkah tersebut :
Format Pengambilan Keputusan
Isu/masalah :___________________________________________________________
Tujuan :_____________________________________________________
_____________________________________________________________
Pilihan 1. __________________________________________________________
2. __________________________________________________________
3._________________________________________________________
Evaluasi dari Pilihan
Pilihan Keuntungan
Kerugian
1.
2.
3.
4.
5.
Pilihan yang masuk ke kolom keuntungan itulah yang menjadi prioritas pengambilan keputusan. Mungkin ada 2 atau 3 pilihan, maka diseleksi lebih jauh untuk memilih satu pilihan.
- Rangking sesuai prioritas dari pilihan tersebut
- Seleksi pilihan yang terbaik
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Profesi bidan dipandang sebagai salah satu profesi yang amat berperan dalam banyak hal dikarenakan seorang bidan mampu mengemban, menempatkan, mengaitkan, memahami, dan menjelaskan realita sosial atau fenomena yang terjadi di masyarakat. Bahwa historikal dan sosiologi memperhatikan profesi bidan yang mempunyai dimensi sosial dan selalu melibatkan makna serta berhubungan dengan kekuasaan maupun dalam hal pengambilan keputusan.
Seorang bidan harus mempunyai keberanian untuk mengambil keputusan dan memikul tanggung jawab atas akibat dari resiko yang timbul sebagai konsekuensi dari keputusan yang telah diambilnya. Pada hakekatnya, pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakekat suatu masalah yang difokuskan untuk memecahkan masalah secepatnya dimana individu harus memiliki kemampuan berfikir kritis dengan menggunakan pendidikan dan pengalaman yang berharga yang cukup efektif dalam pemecahan masalah.
B. Saran
Dalam penulisan dan penyajian materi dalam makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Kedepannya, diharapkan bagi pembaca (terutama penulis) untuk terus menggali informasi mengenai Pandangan historikal dan sosiologi terhadap profesi bidan dalam hal ini adalah pendekatan dan langkah-langkah pengambilan keputusan terutama dari segi agama karena sebagai calon pendidik, apa yang disampaikan akan tertanam pada jiwa peserta didik dan tidak jarang akan mereka amalkan. Oleh karena itu dalam memberikan ilmu diharapkan mengikuti perkembangan IPTEK dan menjadikan Agama (Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai rujukan, agar ilmu yang diberikan dapat dipertanggung jawabkan baik di dunia maupun diakhirat. Insya ALLAH.
DAFTAR PUSTAKA
Marriner, A.T. (1995). Nursing Management and Leadership ( 5th ed), Mosby St Louis,
Baltimore.
Swansburg, A.C. (1996). Management and Leadership for Nurse Managers. Jones and
SBartlett Publishers International, London England
Http://www.pengambilankeputusan.com. Google 29 februari 2012
pengembangan kurikulum
G. Tingkat Dan Proses Pengembangan Kurikulum
Pengembangan kurikulum menunjuk pada kegiatan yang menghasilkan kurikulum, yaitu penyusunan, pelaksanaan, penilaian, dan penyempurnaan kurikulum. Dengan demikian, maka pengembangan kurikulum dapat dikatakan sebagai desain, yaitu proses yang disengaja untuk memikirkan, merencanakan dan menyeleksi bagian, tehnik dan prosedur yang mengatur suatu tujuan atau usaha.
Pengembangan kurikulum berbeda dengan pembinaan kurikulum. Konsep pembinaan mengacu pada upaya mempertahankan dan menyempurnakan kurikulum yang telah ada sehiingga dapat diperoleh hasil yang maksimal, sedangkan konsep pengembangan kurikulum merujuk pada segenap upaya untuk menghasilkan kurikulum. Tugas selanjutnya adalah melaksanakan kurikulum yang dibebankan pada pembinaan kurikulum.
1. Tingkat pengembangan
Pengembangan kurikulum dapat dilakukan dengan kadar kecil dan sangat terbatas dan dapat pula secara meluas dan mendasar. Pengembangan kurikulum dapat berupa :
a. Subtitusi dapat berupa pergantian suatu buku pelajaran dengan buku pelajaran yang lebih baik.
b. Alterasi adalah penyempurnaan kurikulum
c. Variasi adalah penerapan metode yang berhasil di suatu pendidikanlain untuk di jalankan di satuan pendidikan sendiri dengan meniadakan metode yhang lama.
d. orientasi baru adalah bentuk penyempurnaan kurikulum melalui pemberian peran baru kepada pendidik dengan dukungan tenaga dan fasilitas baru.
e. Restrukturisasi penyempurnaan yang berkaitan dengan penerapan nilai-nilai baru.
2. Prosedur Pengembangan Kurikulum
Pada umumnya pendidik masih belum menyadari perannya sebagai pengembang kurikulum. Ini disebabkan kurikulum uniform dan sentralistik, yang mengatur bahkan sampai ke yang sekecil-kecilnhya apa-apa yang harus dilakukan oleh pendidik untuk meningkatkan mutu pendidikan dapat dilakukan dengan dua macam pendekatan.
Pertama, menyusun paket pelajaran sedemikian rupa sehingga pendidik hanya berperan sebagai pengatur distribusi bahan itu sesuai dengan kecepatan peserta didik. Kedua, meningkatkan mutu pendidik sehingga mampu menjalankan tugas dan memperbaiki kemampuannya yang dirasakan kurang atau lemah. Oleh karena itu bila ingin memperbaiki kurikulum satuan pendidikan sehingga hasilnya baik, harus mempertimbangkan kondisi objek satuan pendidikan, kebutuhan PD dan pendidik, masalah yang dihadapi satuan pendidikan, kompetensi pendidk, gejala social, serta perkembangan dan aliran yang dianut oleh kurikulum.
a. Mengetahui tujuan perbaikan
Hal pertama dalam proses pengembangan kurikulum ialah mengetahui dengan jelas apa yang sebenarnya ingin dicapai? Bagaimana cara mencapainya ?bagaimana melaksanakannya? Apa perlu dicari PBM baru? Sumber belajar apa yang diperlukan? Bagaimana mengkoordinasikan bahan? Bagimana menilainya? Serta bagiamana memanfaatkan balikannya ? ada kemungkinan tujuan harus diperjelas atau diubah.
b. Mengenal keadaan satuan pendidikan
Mengenal keadaan satuan pendidikan yang akan menggunakan kurikulum yang dihasilkan. Contoh kurang mnegenal potensi pendidik, sumber belajar yang tersedia dalam satuann pendidikan atau lingkungan,keadaan masyarakat lingkungan, sejarah perkembangan satuan pendidikan, kurikulum satuan pendidikan secara keseluruhan dll.
c. Mempelajari kebutuhan PD dan pendidik
Kurikulum disempurnakan karena adanya kesenjangan antara keadaan yang nyata dengan apa yang diharapkan oleh PD dan pendidik. Mengetahui kebutuhan PD dan pendidik merupakan titik tolak bagi usaha perbaikan.
d. Mengenal masalah yang dihadapi satuan pendidikan.
Pengembangan kurikulum hendaknya beranjak dari permasalahan yang jelas. Permasalahan dapat bersumber dari persoalan yang dihadapi pendidik dan pekerjaannya sehari-hari, misalnya metode mengajar , perbedaan individual PD dll.
e. Mengenal kompetensi pendidik
Kompetensi pendidik sebagai partisipan yang terlibat dalam pengembangan atau pembinaan kurikulum perlu diperhatikan dengan baik. Kompetensi pendidik itu berkaitan dengan pengetahuan mereka tentang seluk beluk peningkatan sebagai bahan diskusi, selanjutnya.
f. Mengenal gejala social.
Pengembangan kurikulum dapat pula dipicu oleh desakan dari dalam dan dari luar bidang pendidikan. Kepala satuan pendidikan menemukan pelbagai masalah yang dapat menghambat terwujudnya satuan pendidikan yang baik.
H. Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum
Prinsip dasar yang perlu diperhatikan dalam pengembangan kurikulum adalah :
1. Relevansi
Relevance atau relevan mempunyai arti whats is happening yakni kedekatan hubungan. Apabila dikaitkan dengan pendidikan antara program pendidikan dengan masyarakat harus memiliki keterkaitan yang erat sehingga hasil pendidikan yang diperolah dapat berguna bagi kehidupan PD di masyarakat.
2. Efektivitas
Prinsip efektivitas adalah sejauh mana perencanaan kurikulum dapat dicapai sesuai dengan keinginan yang telah ditentukan yang dimana dapat ditinjau dari dua segi yaitu:
a. Efektivitas mengajar pendidik
Hal ini menyangkut sejauh mana jenis KBM yang diterapkan di dalam pelaksanaan kurikulum yang sedang diuji coba atau sedang dikembangkan atau dilaksanakan dengan baik oleh pendidik yang telah dipersiapkan dengan baik.
b. Efektivitas belajar PD
Menyangkut sejauh mana tujuan pelajaran yang diinginkan dapat dicapai melaui KBM yang diprogramkan di dalam kurikulum.
3. Efesiensi
Prinsip efesiensi yang sering dikonotasikan dengan prinsip ekonomi, yang berbunyi : dengan modal, tenaga, dan waktu yang sekecil-kecilnya akan dicapi hasil yang memuaskan. Efesiensi suatu usaha pada dasarnya merupakan perbandingan antara hasil yang dicapai (output) dan usaha yang telah dikeluarkan (input). Dalam bidan pendidikan, tentu saja sukar untuk membandingkan nilai hasil usaha dengan cara yang digambarkan tersebut. Sekalipun demikian dalam pengembangan kurikulum dan pendidikan pada umumnya prinsip efesiensi ini perlu sekali diperhatikan baik dari segi waktu, tenaga, peralatanyang tentunya akan mengahasilkan efesiensi dari segi biaya.
4. Kontinuitas
Prinsip kesinambungan yang menunjuk pada adanya keterkaitan antara tingkat pendidikan, jenis dan program pendidikan, serta jurusan atau bidang study. Kesinambungan disini dimaksud adalah saling hubungan antara berbagai tingkat dan jenis program.
a. Kesinambungan antara berbagai tingkat satuan pendidikan dalam menyusun kurikulum
b. Kesinambungan antara berbagai bidang studi. Bahan yang diajarkan dalam berbagai bidang studi sering mempunyai hubungan satu sama lain.
5. Fleksibilitas ( keluwesan )
Ada semacam ruang gerak yang memberikan sedikit kebebasan didalam bertindak. Didalam kurikulum, fleksibilitas disini mencakup
a. Fleksibilitas dalam memilih program pendidikan
Dapat diwujudkan dalam bentuk pengadaan program pilih jurusan/ program spesialisasi ataupun program pendidikan keterampilan yang dapat dipilih oleh PD atas dasar kemampuan minat mereka.
b. Fleksibilitas dalam mengembangkan program pembelajaran dapat diwujudkan antara lain dalam bentuk memberikan kesempatan kepada para pendidik untuk mengembangkan sendiri program pembelajaran dengan berpegang pada tujuan dan bahan pembelajaran dalam kurikulum yang masih bersifat umum.
6. Berorientasi tujuan
Prinsip berorientasi tujuan berarti langkah awal sebelum memilih dan mengembangkan komponen kurikulum ialah menetapkan tujuan. Selanjutnya, pelbagai komponen kurikulum lainnya dipilih dan dikembangkan dalam rangka mencapai tujuan tersebut. Dengan demikian isi atau bahan pelajaran, alokasi waktu, media/ sumber belajar, kegiatan pembelajaran, penilaian diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
I.Faktor Yang Mempengaruhi Pengembangan Kurikulum
Pengembangan kurikulum satuan pendidikan tidak dapat terlepas dari pengaruh yang terdapat diperguruan tinggi, masyarakat, dan system nilai.
1. Perguruan tinggi
Perguruan tinggi memberikan dua pengaruh terhadap kurikulum satuan pendidikan. Pertama, dari segi pengembangan ipteks yang dikembangkan diperguruan tinggi umum. Kedua, dari segi pengembangan ilmu pendidikan dan kependidikan serta penyiapan pendidik di LPTK. Penguasaan keilmuan, baik ilmu pendidikan maupun bidang studi sertamengajar dari pendidik, akan sangat mempengaruhi pengembangan kurikulum, terutama melalui penguasaan ilmu dan kemampuan kependidikan dari pendidik yang dihasilkannya.
2. Masyarakat.
Satuan pendidikan merupakan bagian dari masyarakat yang diantaranya bertugas mempersiapkan PD untuk dapat hidup secara bermartabat di masyarakat. Sebagai bagian dari agen masyarakat, stuan pendidikan tersebut sangat dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat ditempat satuan pendidikan tersebut berada.
3. System nilai
Dalam kehidupan masyarakat terdapat system nilai: moral, keagamaan, social, budaya maupun nilai politis.
J. Tahap-Tahap Pengembangan Kurikulum
Dalam proses pengembangan kurikulum ada tiga tahap yang harus dilewati diantaranya :
1. Pengembangan Program Tingkat Lembaga
Pengembangan program atau kurikulum pada tingkat lembaga mencakup tiga kegiatan pokok.
a. Perumusan tujuan institusional
Tujuan institusional di maksud adalah rumusan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diharapkan dan dimiliki PD setelah mereka menyelesaikan keseluruhan program pendidikan pada suatu lembaga pendidikan tertentu. Adapun sumber yang digunakan dalam merumuskan tujuan institusional secara lebih terarah serta cirri-ciri yang berlaku bagi tujuan institusional secara lebih terarah serta ciri-ciri yang berlaku bagi tujuan institusional tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
1) Sumber yang digunakan
Ada tiga sumber yang digunakan sebagai dasar dalam merumuskan tujuan institusional, yaitu (a) tujuan pendidikan nasional (b) harapan masyarakat (c) harapan satuan pendidikan yang lebih tinggi
2) Ciri-ciri tujuan institusional
a) Kategori meliputi dua golongan
(1) Tujuan Institusional umum
Menggambarkan pengetahuan, keterampilan dan sikapyang bersifat umumyang perlu dimiliki oleh lulusan satuan pendidikan.
(2) Tujuan Institusional khusus
Merupakan penjabaran dari tujuan institusional umum, sekalipun rumusannya masih bersifat umum.
b) Aspek yang dicakup
Rumusan tujuan institusional suatu lembaga pendidikan biasanya mencakup aspek-aspek : pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diharapkan dimiliki ole PD setelah menyelesaikan pendidikan dilembaga tersebut.
c) Tingkat Kekhususan
Tujuan institusional sifatnya lebih khusus dari tujuan pendidikan nasional tetap belum sekhusus tujuan setiap bidang studi.
b. Penetapan isi dan struktur program
Dengan penetapan isi kurikulum di sini dimaksudkan adalah penetapan bidang studi yang akan diajarkan dalam kurikulum tersebut.
c. Penyususnan strategi pelaksanaan kurikulum
Atas dasar tujuan institusional, isi kurikulum dan struktur program yang telah ditetapkan, kini perlu disusun strategi pelaksaan kurikulum secara keseluruhan meliputi (1) melaksanakan pembelajaran/perkuliahan (2) melaksanakan penilaian (3) melaksanakan bimbingan dan penyuluhan dan melaksanakan administrasi dan supervise (pengawasan).
2. Pengembangan Program Setiap Bidang Studi.
Pengembangan program tiap bidang studi dilaksanakan dengan menempuh langkah-langkah kegiatan sebagai berikut :
a. Merumuskan standar kompetensi (SK)
SK ini lebih khusus dari tujuan institusional dan sudah terbatas didalam suatu (satu bidang studi tertentu ), misalnya : (1) mengenal dan memahami hubungan timbale balik antara makhluk hidup dan benda mati dalam hubungannya dengan kehidupan manusia. (2) mampu menggunakan ide-ide yang fundamental tentang bilangan dan pengukuran bangun; (3) memiliki pengetahuan yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menulis dalam bahasa Indonesia; (4) mengetahui dan mengenal Negara-negaratetangga.
b. Merumuskan Kompetensi Dasar (KD)
KD adalah rumusan pengetahuan keterampialan dan sikap yang merupakan perincian dan penjabaran SK sebagai dasar untuk menetapka bahan pembelajaran dalam setiap bidang studi.
c. Menetapkan materi pokok dan sub materi pokok
Atas dasar KD yang telah dirumuskan, ditetapkanlah materi pokok bahasan dan sub materi pokok untuk setiap bidang studi yang nantinya menjadi bahan pembelajaran.
d. Menyusun garis-garis besar program pembelajaran (GBPP)
(1) Atas dasar SK,KD dan materi pokok/ sub materi pokok bahasan maka dapat disusun garis-garis besar-besar program pembelajaran yang berisikan tujuan dan bahan pembelajaran.
(2) Setelah GBPP setiap bidang studi selesai disusun, maka dibuatlah pedoman khusus untuk melaksanakan pembelajaran masing-masing bidang studi yang antara lain berisi uraian tentang pendekatan/strategi/metode mengajar yang digunakan, alat perlengkapan/media pembelajaran, cara menilai hasil-hasil yang dicapai dalam pembelajaran.
3. Pengembangan program pembelajaran di kelas
Untuk mengembangkan program pembelajaran dikelas isi GBPP setiap bidang studi perlu diolah lagi untuk menentukan satuan-satuan bahan. Menetapkan materi/submateri pokok dari bahan pelajaran yang tercantum dalam GBPP dan waktu yang diperlukan menyelesaikan setiap satuan bahasan tersebut.
perencanaan Makro mikro dan messo dalam kebidanan dan pendidik
PERENCANAAN MAKRO
Perencanaan makro adalah perencanaan yang menetapkan kebijakan-kebijakan yang akan ditempuh, tujuan yang ingin dicapai dan cara-cara mencapai tujuan itu pada tingkat nasional. Rencana pembangunan nasional dewasa ini meliputi rencana dalam bidang ekonomi dan social. Dipandang dari sudut perencanaan makro, tujuan yang harus dicapai Negara (khususnya dalam bidang peningkatan SDM) adalah pengembangan system pendidikan untuk menghasilkan tenaga pembangunan baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Secara kuantitatif pendidikan harus menghasilkan tenaga yang cukup banyak sesuai dengan kebutuhan pembangunan. Sedangkan secara kualitatif harus dapat menghasilkan tenaga pembangunan yang terampil sesuai dengan bidangnya dan memiliki jiwa pancasila.
Secara garis besar sesuai dengan pengertian perencanaan makro yang telah dijabarkan diatas maka saya dapat membuat contoh perencanaan seperti penurunan Angka status gizi buruk pada tingkat nasional yang salah satu rencana dari pemerintah pusat. Jika di hubungkan dengan profesi bidan dan pendidik dapat ditinjau lagi bahwasanya masalah status gizi di sini adalah tujuan bersama untuk menurunkan angka status gizi buruk tersebut. Dimana bidan disini sebagai penggerak dari sumber manusia yang digerakkan pemerintah untuk menanggulangi masalah tersebut yang bisa berakibat fatal bagi anak-anak kurang gizi pada umumnya. Bidan dapat bekerja sama dengan organisasi-organisasi kesehatan untuk melakukan penyuluhan pada daerah yang dominan dengan status gizi buruk yang selalu meningkat setiap tahunnya. Selain melakukan penyuluhan atau survey langsung pada lapangan bidan juga dapat melakukan tindakan-tindakan kecil misalnya bidan bisa bekerjasama dengan dinas pertanian dalam penyediaan sandang dan pangan pada masyarakat kurang mampu. Kemudian bidan juga dapat melakukan pendekatan kepada orangtua tentang status gizi yang baik.
Sedangkan jika kita menghubungkan perencanaan makro sesuai dengan contoh tersebut dalam segi pendidikan adalah bagaimana pendidik mampu menanggulangi secara teori atau yang bersifat ilmiah. Misalnya pendidik melakukan riset atau penelitian tentang peningkatan status gizi buruk di Indonesia semakin meningkat yang mungkin ada daerah yang kurang dilirik oleh pemerintah sehingga dalam penelitian tersebut kita bisa mengekspose untuk lebih ditanggulangi lebih baik lagi. Bidan pendidik juga bisa melakukan penjelasan tentang pencegahan status gizi buruk dalam ruang lingkup kelas, yang diharapkan peserta didik mampu menjelaskan kepada masyarakat nantinya tentang dampak dari status gizi buruk tersebut.
PERENCANAAN MESSO
Perencanaan meso adalah penjabaran kebijaksanaan yang telah ditetapkan pada tingkat makro ke dalam program-program berskala kecil. kemudian dijabarkan kedalam program-program yang bersekala kecil.pada tingkatamnya perencanaan sudah lebih bersifat operasional disesuaikan dengan depertemen dan unit-unit.
Seperti telah dikemukakan dari contoh diatas pada perencanaan makro dengan perencanaan yang lebih luas lagi yang berfokus pada tujuan pemerintah pada umumnya yaitu untuk menurunkan angka status gizi buruk di Indonesia. Dari penjabaran tersebut kita bisa membuat program-program kecil untuk mencapai tujuan makro tersebut, misalnya kita bisa membuat unit-unit pelayanan kesehatan untuk melibatkan tenaga medis yang dalam hal ini adalah bidan desa atau organisasi IBI Ranting daerah dalam setiap unit-unit kesehatan yang infrastrukturnya merata disetiap pelosok daerah di Indonesia.
Yang dapat diharapkan dan diarahkan lagi bahwasanya bidan desanya harus lebih memberi perhatian bukan hanya pada penurunan morbiditas dan mortalitas ibu dan anak saja, tapi dalam hal ini status gizi pada masyarakat atau lingkungan tempat bidan tersebut berpijak harus lebih diperhatikan lagi. Kegiatan penyuluhan serta pengevaluasian dari hasil program kerja ini lebih diaktifkan lagi. Unit-unit pelayanan kesehatan lebih digerakkan lagi dengan program-program kerja yang lebih meluas berfokus pada permasalahan masyarakat misalnya dalam status gizi buruk. maka diharapkan perencanaan-perencanaan atau program-program kecil yang telah dibuat dapat dicapai.
Ditinjau lagi dari peran pendidik,hubungan perencanaan messo yang telah dikemukakan contohnya diatas dengan profesi saya sebagai calon pendidik. Pendidik dalam hal ini adalah pelaksana atau pengembang kurikulum yang pada dasarnya pendidik berfokus pada apa yang dibutuhkan masyarakat atau peserta didik. Dalam perencanaan messo pendidik dapat mengembangkan kurikulum dengan membuat program-program yang nantinya program tersebut akan dilaksanakan atau diaplikasikan dilapangan. Pada perencanaan yang dingin dicapai adalah menurunkan angka status gizi buruk di Indonesia pendidik bisa melakukan pendekatan dengan melakukan loby atau pendekatan kepada instansi-instanis seperti dinas pertanian serta instansi lainnya yang terkait dalam masalah tersebut untuk bekerja sama dengan bidan pada khususnya dalam menurunkan angka status gizi buruk di Indonesia.
PERENCANAAN MIKRO
Perencanaan mikro diartikan sebagai perencanaan pada tingkat instituisional dan merupakan penjabaran dari perencanaan tingkat messo dari lembaga mendapatkan perhatian, namun tidak boleh bertentangan dengan apa yang telah ditetapkan dalam perencanaan makro ataupun messo.
Sesuai dengan apa yang telah dikemukakan pengertian mikro diatas bahwasanya perencanaan-perencanaan yang telah dikemukakan dari perencanaan makro dan messo dijabarkan lagi dalam bentuk pengaplikasian untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan penjabaran tersebut tidak dapat bertentangan dengan perencanaan makro dan messo. Dari contoh perencanaan makro dan messo masalah menurunkan angka status gizi buruk di Indonesia maka saya sebagai bidan dapat membuat perencanaan makro dengan melakukan penyuluhan-penyuluhan pada unit-unit sederhana seperti polindes atau poskesdes dan menjalankan program kerja yang telah disusun.
Jika ditelaah dan dihubungkan lagi dengan profesi sebagai bidan pendidik maka kita dapat menyusun dengan sub-sub materi pokok bahasan untuk membahas lebih jelas lagi mengenai pencegahan status gizi buruk dimasyarakat. Jadi bidan pendidik disini dia lebih berperan pada pengetahuan sesuai dengan teori-teori yang ada untuk tingkat pencegahan dan penanganannya serta perkembangan kurikulum untuk peserta didik yang diharapkan dapat diaplikasikan nantinya dalam masyarakat dimana peserta didik nantinya sebagai calon bidan masa depan sedang bidan dalam artian penyuluhan untuk menurunkan dan mencegah status giizi buruk yang terjadi dimasyarakat dengan menggerakkan kembali poskesdes atau polindes yang awalnya berperan dalam penurunan morbiditas dan mortalitas pada ibu dan anak sekarang diarahkan lagi dalam program pemerintah penurunan angka status gizi buruk di Indonesia dengan menggerakkan berbagai organisasi demi tercapainya tujuan dari perencanaan tersebut.
Selasa, 03 September 2013
celoteh hujan pada malam
Kala malam bersihkan wajahnya dari bintangbintang,
Lalu arakkan awan gemawan menyamakan warna
Dan turunkan setetes air langit dari tubuhnya
Tetestetes itu serupa tangisan dewadewa hujan
Ada luka yang menganga disetiap bulirnya
Petir semakin memperjelas teriakan kemuakan hujan
Para serdadu itu muak dengan sumpah serapah
Saban hari kemarin, kemarinnya, kemarinnya lagi, dan kemarin kemarin kemarinnya lagi dan lagi,
Hujan selalu dijadikan tersangka
Duduk dipesakitan sebagai terdakwa
Dituduh sebagai biang penunda, penyebab kebanjiran dan kemacetan
Dimata mereka, tak ada keindahan pada hujan
Hanya pelangi berjuta warna yang mereka puja bak dewa Neptunus
Mereka tak pernah sadar, hujanlah yang melahirkan pelangi
Pelangi bagian dari persembahan hujan
Yang mereka lihat hanya keciprak air di jalan yang berlubang,
Desah yang memecah ketenangan,
Duet bersama selokan yang meluap,
Semilir angin yang mengalunkan gigil
Mereka tak sadar dengan pemberitahuan hujan tentang bumi yang sudah sakit,
Tentang langit yang sudah terasa pahit
Mereka tak pernah mau pedulikan bahwa hujanlah yang menciptakan warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu di langit
Hujanlah yang mempersatukan mereka menjadi semburat pelangi
Melengkung menawan,
Membentuk senyuman manis dilangit yang membiru
Malam..
Hanya malamlah yang sudi mendengarkan celoteh hujan tanpa bintang
Langganan:
Postingan (Atom)